Rabu, 21 Juli 2010

Harga Emas Dunia Melonjak, Gurandil Pongkor (Nanggung) Teriak

Riuh harga emas dunia yang terus membubung tinggi menembus rekor-rekor baru tampaknya hanya akan menjadi gumpalan-gumpalan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan tambang besar dan para pialang.

Nasib berbeda justru dialami oleh para penambang emas khususnya berskala kecil di tingkat lokal, sebut saja kawasan penambangan emas Gunung Pongkor, wilayah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Bogor Jawa Barat.

Di sana banyak ditemui penambang emas skala kecil rumahan yang bisa dibilang sebagai penambang liar, atau dengan istilah populernya 'Gurandil', yang sampai saat ini mencoba mengadu keberentungannya mengais rezeki emas dari perut Gunung Pongkor.

Sebut saja Giman, warga desa Cisarua, Sidamulya, Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor. Pria berusia 35 tahun ini setidaknya sudah 10 tahun menjalani profesi menjadi gurandil di kawasan Pongkor.
View Larger Map

Bersama dengan rekan-rekannya yang berprofesi menjadi gurandil, Giman merasakan banyak kesusahan. Mulai dari selain pendapatan yang tidak pasti, ancaman bahaya mengintai setiap saat seperti terimbun longsor, dampak penyakit air raksa (mercury) dan tertangkap petugas PT Aneka Tambang (Antam) selaku pemegang wilayah kerja penambangan emas Pongkor.

Giman mengaku semenjak setahun terakhir pihak Antam mulai ketat dalam menjaga kawasan pertambangan Pongkor. Hanya gurandil tertentu saja yang masih nekad main kucing-kucingan dengan petugas, untuk mencari lubang-lubang 'tikus' yang dianggap banyak mengandung emas.

Sedangkan dirinya lebih memilih membuat alat pengolah emas yang biasa disebut 'Gelundung' di pekarangan rumahnya. Meski tidak mendapatkan hasil tak seberapa, namun setidaknya per hari ia bisa mendapat Rp 20.000-30.000 dari hasil menggelundung emas.

"Jujurnya saja 3 kali gelundung selama sehari paling-paling saya dapat hasil bersih Rp 20.000-30.000," katanya kepada detikFinance saat ditemui di rumahnya di desa Cisarua Kecamatan Nanggung, Bogor, Minggu (29/11/2009).

Giman menjelaskan alat gelundung dipakai untuk memisahkan serpihan emas dari tanah dengan cara memasukan bongkahan tanah yang ia peroleh dari sisa-sisa gurandil yang masih aktif mengambil emas di Pongkor.

Kemudian dari tanah-tanah yang diduga mengandung emas, ia mencampurnya dengan air dan mercury dimasukan dalam tabung gelundung yang akan diputar oleh dinamo bertenaga listrik selama 7 jam. Dari proses itu jika ada emas maka serpihan emas akan menyatu dengan mercury. Setidaknya selama satu hari ia hanya mampu melakukan 3 kali proses gelundung.

Dari proses sebanyak itu ia mengaku hanya mencapat serpihan emas rata-rata perharinya sebanyak kurang lebih 1 gram dengan kadar kualitas belum pasti. Yang menyedihkan bagi dia adalah ketika hasil dulangan emasnya saat dijual ketengkulak, karena biasanya tengkulak menentukan kadar dan standar harga emas seenak perutnya.

"Saya tahu kalau sekarang harga emas lagi naik, pihak pembeli (tengkulak) biasanya kalau harga standar naik atau turun akan memberi tahu," katanya.

Dikatakannya selama sepekan terakhir patokan standar harga jual emas di wilayahnya sudah naik dari Rp 300.000 naik menjadi Rp 340.000 per gram seiring naiknya harga emas.

Namun kata dia standar itu terkadang tidak berdampak signifikan bagi pendapatannya, karena selain mengikuti standar, hasil emas dulangannya akan diukur berdasarkan karat 1 hingga 70%. Artinya kualitas emas terbaikpun akan hanya dihargai sekitar Rp 230.000-an per gram berdasarkan harga standar Rp 340.000 per gram.

"Sudah ada rumus-rumusnya, yang saya pun tidak tahu bagaimana menghitungnya," katanya pasrah.

Celakanya, dari hasil produksi emas mentahnya yang hanya rata-rata 1 gram per hari, ternyata emas olahannya hanya mendapat kadar rata-rata 10-20%, sehingga harga standar emas yang saat ini sedang tinggi pun tidak berpengaruh besar bagi kantongnya.

Padahal kata dia menjalankan gelundung setidaknya memerlukan modal cukup besar selain modal awal berupa alat gelundung dan dinamo hingga Rp 2 juta, ia juga harus banyak mengeluarkan biaya produksi seperti membeli mercury 1/4 kg Rp 125.000 yang hanya bisa dipakai proses menggelundung satu minggu, biaya tagihan listrik per bulannya Rp 200.000 dan lain-lain.

"Kalau ada yang menawarkan kerjaan lain, saya sih sebenarnya pilih kerjaan lain, karena usaha emas ini hasilnya tidak pasti, tangan rusak kena air raksa," katanya.

Pri yang memiliki 3 orang anak ini mengatakan setidaknya empat desa di kawasan Nanggung Bogor yaitu Cisarua, Malasari, Curug Bitung dan Bantar Karet 80% masyarakatnya berprofesi sebagai pengolah emas termasuk diantaranya hampir setiap rumah memiliki gelundung seperti dirinya.

"Ya empat desa itu yang terkenal banyak gurandil-nya," katanya.

Kawasan penambangan emas Gunung Pongkor selama satu dasawarsa terakhir cukup terkenal, ribuan orang dari penjuru Nusantara banyak yang mengadu nasib untuk menjadi gurandil menggali-gali lobang keberuntungan yang tak jarang harus menjadi lubang maut.

Semenjak 1998 euforia menggali emas di Pongkor sudah menjadi fenomena, banyak orang kaya mendadak di Pongkor karena berhasil mendapatkan emas tapi banyak juga yang meregang nyawa karena tertimbun tanah.

"Kalau dihitung sejak 1998 lalu sampai sekarang yang meninggal itu sampai ratusan," katanya.

Selama beberapa pekan terakhir harga emas dunia terus melonjak naik signifikan misalnya pada tanggal 16 November 2009 harga emas sempat menembus hingga US$ 1.132 per troy ounce, kemudian naik kembali US$ 1.143,95 per troy ounce pada tanggal 18 November dan pada akhir pekan lalu tembus US$ 1.192 per troy ounce tanggal 26 November 2009 seiring melemahnya nilai tukar mata uang dollar AS di penjuru dunia.

(hen/qom)

Sumber :
Suhendra - detikFinance
http://www.detikfinance.com/read/2009/11/30/102834/1250857/4/harga-emas-dunia-melonjak-gurandil-pongkor-teriak
30 November 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar